Reformulasi Kebijakan Hukum Pidana dalam Menjamin Keadilan Substantif dan Perlindungan Hak Asasi Manusia
DOI:
https://doi.org/10.64147/dokhum.v1i2.14Kata Kunci:
Hukum Pidana, Kebijakan Kriminal, Keadilan Restoratif, Hak Asasi ManusiaAbstrak
Kebijakan hukum pidana dalam negara hukum demokratis masih terkendala dalam menyeimbangkan tuntutan penegakan hukum yang mengedepankan keadilan substantif dan hak asasi manusia. Dominasi paradigma retributif berpotensi mendorong overkriminalisasi, marginalisasi kelompok rentan, serta reduksi makna keadilan menjadi sekadar penghukuman formal. Penelitian ini bertujuan mengkaji kebijakan hukum pidana dalam perspektif keadilan dan HAM, menganalisis dampak dominasi paradigma retributif, serta mengevaluasi arah reformulasi pemidanaan melalui sanksi alternatif dan pendekatan restoratif. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya persoalan antara orientasi represif dan upaya kebijakan pidana yang humanis melalui prinsip proporsionalitas dan restoratif. Disimpulkan bahwa reformasi sistemik diperlukan agar kebijakan hukum pidana lebih humanis dan berorientasi pada perlindungan martabat manusia.
Referensi
[1] L. K. Sinaga, D. Artina, and E. Erdiansyah, “Reormulasi Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Pemberian Sanksi Pidana Bersyarat,” JOM Fak. Huk. Univ. Riau, vol. 8, no. 1, pp. 1–15, 2021, [Online]. Available: https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFHUKUM/article/view/30347
[2] C. K. Mantikei, I. Januardy, and S. Nugraha, “Reformulasi Kebijakan Hukum Pidana terhadap Perusakan Fasilitas Umum dalam Demonstrasi untuk Menjaga Keseimbangan antara Kebebasan Sipil dan Ketertiban Sosial,” J. Innov. Creat., vol. 5, no. 3, pp. 28823–28834, 2025, doi: 10.31004/joecy.v5i3.4203.
[3] R. S. Nugraha, E. Rohaedi, N. Kusnadi, and A. Abid, “The Transformation of Indonesia’s Criminal Law System: Comprehensive Comparison between the Old and New Penal Codes,” Reformasi Huk., vol. 29, no. 1, pp. 1–21, 2025, doi: 10.46257/jrh.v29i1.1169.
[4] P. A. Christian S P and J. D. Panjaitan, “Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Korban dalam Prespektif Undang-Undang Hukum Hak Asasi Manusia,” Action Res. Lit., vol. 9, no. 7, pp. 1839–1845, 2025, [Online]. Available: https://doi.org/10.46799/arl.v9i7.2998
[5] S. Rahayu and S. Sunaryo, “Penerapan Criminal Justice System Yang Humanis dan Eefektif Sebagai Paradigma Baru Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia,” Lex Strict. J. Ilmu Huk., vol. 4, no. 1, pp. 129–136, 2025, doi: 10.46839/lexstricta.v4i1.1370.
[6] S. Rosmini, “Urgensi Reformulasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dalam Konteks Nilai-Nilai Pancasila,” Leg. J. Ilm. Ilmu Huk., vol. 10, no. 1, pp. 25–32, 2025, doi: 10.31293/lg.v10i1.8802.
[7] R. Aridewa and W. P. N. Permana, “Reformulasi Pengaturan Prapenuntutan dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) untuk Menjamin Keadilan dan Kepastian Hukum pada Proses Peradilan Pidana,” in Prosiding Seminar Hukum Aktual: Meneropong Masa Depan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 2025, pp. 1–16. [Online]. Available: https://journal.uii.ac.id/psha/article/view/45983
[8] S. Harefa, S. Ismawati, and M. F. Hertini, “Transformasi Kebijakan Pemidanaan dalam Kuhp Nasional: Menuju Sistem Pemidanaan Yang Berkeadilan dan Humanis,” Simbur Cahaya J. Ilm. Ilmu Huk., vol. 32, no. 2, pp. 283–306, 2025, doi: 10.28946/sc.v32i2.5050.
[9] I. Y. S. Soeiono, T. Buaton, A. Retnowati, and A. Jaeni, “Reformulasi Perlindungan Hukum Berbasis HAM terhadap Anak Korban Perdagangan Manusia di Indonesia,” J. Ilmu Hukum, Hum. dan Polit., vol. 5, no. 6, pp. 4719–4727, 2025, doi: 10.38035/jihhp.v5i6.5716.
[10] F. Venturi, “Reconstructing Criminalisation. Regulatory Crimes and the Authoritarian Foundations of Modern Substantive Criminal Law,” Crim. Law Philos., vol. 7, no. 3, pp. 1–26, 2013, doi: 10.1007/s11572-025-09771-w.
[11] M. García-Villegas, “The Symbolic Uses of Law: At the Heart of a Political Sociology of Law,” in The Powers of Law: A Comparative Analysis of Sociopolitical Legal Studies, Cambridge: Cambridge University Press, 2018, pp. 19–37. doi: 10.1017/9781108584975.
[12] K. Nuotio, “A Legitimacy-Based Approach to EU Criminal Law: Maybe We Are Getting There, After All,” New J. Eur. Crim. Law, vol. 11, no. 1, pp. 20–39, 2020, doi: 10.1177/2032284420903386.
[13] H. Purwanto, P. Pujiyono, I. Cahyaningtyas, R. Arifin, and M. A. Maskur, “Reconstructing the Legal Understanding of the Presumption of Innocence in Criminal Justice to Achieve Justice,” Indones. J. Crim. Law Stud., vol. 10, no. 2, pp. 417–450, 2025, doi: 10.15294/ijcls.v10i2.32033.
[14] R. L. Lippke, “Retributivism and Victim Compensation,” Soc. Theory Pract., vol. 46, no. 2, pp. 317–338, 2020, doi: 10.5840/soctheorpract202033187.
[15] M. H. Wibowo, A. Masyhar, and A. Widyawati, “Progressionism Restorative Justice Policies in Achieving Rehabilitative Criminal Justice,” Indones. J. Crim. Law Stud., vol. 9, no. 1, pp. 117–138, 2024, doi: 10.15294/ijcls.v9i1.36420.
[16] H. Schoenfeld, R. M. Durso, and K. Albrecht, “Maximizing Charges: Overcriminalization and Prosecutorial Practices During the Crime Decline,” Nov. 06, 2018, Emerald Publishing Limited, Leeds. doi: 10.1108/S1059-433720180000077007.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Muh. Amiruddin, Andi Muliyono, Alice Ance Bonggoibo (Author)

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.


