Peran Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dalam Substitusi Restitusi Anak Pelaku Tindak Pidana

Authors

  • Yohana Watofa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari Author
  • Jonhi Sassan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari Author
  • Marius Suprianto Sakmaf Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari Author
  • Nurjana Lahangatubun Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari Author
  • Andri Muliyono Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari Author
  • Ahmad Nur Fattah Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari Author

DOI:

https://doi.org/10.64147/dokhum.v2i1.17

Keywords:

Restitusi, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) , Keadilan Restoratif, Pelaku Anak

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan mayoritas anak pelaku tindak pidana di LPKA Kelas II Manokwari memenuhi kewajiban restitusi finansial akibat kemiskinan struktural. Penelitian bertujuan menganalisis peran LPKA dalam mengembangkan substitusi program restitusi serta faktor-faktor penghambat implementasinya. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan socio-legal melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LPKA berperan sebagai fasilitator restitusi alternatif melalui asesmen psikososial, pembinaan produktif, pelatihan keterampilan, pendidikan karakter, dan mediasi penal. Implementasinya masih terkendala oleh kelemahan regulasi, keterbatasan kelembagaan, kemiskinan struktural, rendahnya koordinasi antarlembaga, serta budaya hukum yang masih berorientasi retributif. Disimpulkan bahwa restitusi alternatif berbasis pembinaan lebih mencerminkan keadilan restoratif, melindungi kepentingan terbaik bagi anak, dan tetap mendukung pemulihan hak korban.

References

[1] N. Ilaina, R. Rohana, Y. P. Sa’idah, T. Tarmudi, and S. Sugianto, “Sinkronisasi Politik Hukum Perlindungan Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia,” J. Huk. Ekualitas, vol. 1, no. 2, pp. 102–117, 2025, doi: 10.56607/2gn75p52.

[2] D. W. V. Ness and K. H. Strong, “Restorative Justice: Justice That Promotes Healing,” in Restoring Justice: An Introduction to Restorative Justice, 5th ed., Amsterdam: Elsevier Inc., 2015, pp. 43–60. doi: 10.1016/B978-1-4557-3139-8.00003-0.

[3] M. Ali, A. Muliyono, W. Sanjaya, and A. Wibowo, “Compensation and restitution for victims of crime in indonesia: Regulatory flaws, judicial response, and proposed solution,” Cogent Soc. Sci., vol. 8, no. 1, p. 2069910, 2022, doi: 10.1080/23311886.2022.2069910.

[4] A. Triwati, “Pembaharuan Kebijakan Restitusi Bagi Anak Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang,” J. Paradig. Huk. Pembang., vol. 2, no. 3, pp. 171–177, 2017, doi: 10.25170/paradigma.v2i03.1905.

[5] I. D. Mansyur, A. Rahman, and A. P. Buana, “Diversi terhadap Anak Pelaku Pencurian: Upaya Perlindungan atau Pelemahan Hukum?,” Leg. Dialogica, vol. 1, no. 2, pp. 1–8, 2026.

[6] S. Pranata, I. Satria, and S. Yunarman, “Peran Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bentiring dalam Penanaman Karakter pada Anak-Anak Lapas,” Dawuh Islam. Commun. J., vol. 5, no. 2, pp. 61–70, 2024, doi: 10.62159/dawuh.v5i1.1240.

[7] F. Sabri, “Perlindungan Hukum dengan Restitusi Terhadap Anak Yang Menjadi Korban Tindak Pidana,” Unes J. Swara Justisia, vol. 6, no. 4, pp. 398–414, 2023, doi: 10.31933/ujsj.v6i4.293.

[8] I. G. A. Artha, O. S. Matompo, and M. Maisa, “Efektivitas Pembinaan Terhadap Residivis Anak Tindak Pidana Pencurian di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Palu: The Effectiveness of Coaching Against Child Recidivists for the Crime of Theft at the Special Class II Children’s Guidance Institute, Palu,” J. Kolaboratif Sains, vol. 5, no. 3, pp. 135–145, 2022, doi: 10.56338/jks.v5i3.2308.

[9] H. Taufiqurohman, E. Dewi, and F. B. Tamza, “Dasar Pertimbangan Hakim dalam Pengembalian Anak Pelaku Pencurian dengan Pemberatan kepada Orang Tua: Studi Putusan 20/Pid.Sus-Anak/2023/PN Kla,” Aliansi J. Huk. Pendidik. Dan Sos. Hum., vol. 2, no. 3, pp. 284–295, 2025, doi: 10.62383/aliansi.v2i3.938.

[10] A. Alya, S. Wahyudi, and R. Hendriana, “Implementasi Restitusi Bagi Anak Yang Menjadi Korban Tindak Pidana: Studi di Pengadilan Negeri Wonosobo,” Soedirman Law Rev., vol. 3, no. 4, 2021, doi: 10.20884/1.slr.2021.3.4.171.

[11] L. A. Fasya, “Perlindungan Hukum Pelaku Tindak Pidana Pencurian yang Dilakukan oleh Anak Berdasarkan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak: Studi Putusan Nomor 33/Pid. Sus-Anak/2018/PN Gns,” Huk. Inov. J. Ilmu Huk. Sos. Dan Hum., vol. 2, no. 2, pp. 17–28, Mar. 2025, doi: 10.62383/humif.v2i2.1417.

[12] Muhamat Burhan and Harti Winarni, “Pertanggungjawaban Pidana Oleh Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Pencurian di Pengadilan Negeri Bantul Yogyakarta,” J. Sains Stud. Res., vol. 3, no. 6, pp. 764–770, 2025, doi: 10.61722/jssr.v3i6.6840.

[13] R. Banakar and M. Travers, Theory and Method in Socio-Legal Research. London: Bloomsbury Publishing PLC, 2005.

[14] F. A. Sibarani, M. Ablisar, M. Marlina, and E. Ikhsan, “Penerapan Prinsip the Best Interest of Child Terhadap Anak Yang Melakukan Tindak Pidana Kesusilaan: Studi di Kepolisian Daerah Sumatera Utara,” Bul. Konstitusi, vol. 3, no. 1, pp. 29–50, 2022, doi: 10.30596/konstitusi.v3i1.9921.

[15] D. Resmayanti, V. R. Handoko, and A. I. Rochim, “The Effectıveness Of Socıal Reıntegratıon Programs In Preventıng Recıdıvısm Among Prısoners In Indonesıa,” Asian J. Manag. Entrep. Soc. Sci., vol. 6, no. 3, pp. 1567–1580, 2026, doi: 10.63922/ajmesc.v6i03.1954.

[16] M. Van Alphen, “Restorative Practices: A Systemic Approach to Support Social Responsibility,” Syst. Res. Behav. Sci., vol. 32, no. 2, pp. 190–196, 2015, doi: 10.1002/sres.2259.

Downloads

Published

07-08-2026

How to Cite

Watofa, Y. ., Sassan, J. ., Sakmaf, M. S. ., Lahangatubun, N. ., Muliyono, A. ., & Fattah, A. N. . (2026). Peran Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) dalam Substitusi Restitusi Anak Pelaku Tindak Pidana. Jurnal Paradoks Hukum, 2(1), 1-20. https://doi.org/10.64147/dokhum.v2i1.17