Hakikat Asas Kepentingan Nasional dalam Perdagangan Internasional
Tinjauan Teoritis dan Implementasinya di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.64147/dokhum.v1i2.9Keywords:
Essence, National Interest, International Trade, ImplementationAbstract
Penelitian berangkat dari ketimpangan antara kebutuhan perlindungan kepentingan nasional dan tuntutan keterbukaan pasar global. Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi asas kepentingan nasional sebagai dasar kebijakan perdagangan Indonesia dalam kerangka hukum internasional. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepentingan nasional mencakup dimensi ekonomi, politik, sosial, dan keamanan, namun implementasinya masih menghadapi hambatan harmonisasi dengan aturan WTO. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan landasan hukum nasional dan sinkronisasi regulasi internasional diperlukan guna menjamin efektivitas kebijakan perdagangan Indonesia.
References
[1] N. D. Prasetyo, I. Istislam, and S. Hamidah, “erlindungan Kepentingan Nasional dalam Penanaman Modal,” J. Huk. dan Kenotariatan, vol. 5, no. 2, pp. 270–272, 2021, doi: 10.33474/hukeno.v5i2.10630.
[2] D. Agasie and R. Zubaedah, “Urgensi Kenaikan Tarif Pajak Pertambahan Nilai Berdasarkan Asas Kepentingan Nasional,” Perspekt. Huk., vol. 22, no. 2, pp. 215–239, 2022, doi: 10.30649/ph.v22i2.131.
[3] A. Bainus and J. B. Rachman, “Editorial: Kepentingan Nasional dalam Hubungan Internasional,” Intermestic J. Int. Stud., vol. 2, no. 2, pp. 109–115, 2018, doi: 10.24198/intermestic.v2n2.1.
[4] S. Suparman, “Urgensi Regulasi Komprehensif E-Commerce di Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” J. Mercat., vol. 8, no. 1, pp. 75–90, 2015, doi: 10.31289/mercatoria.v8i1.648.
[5] A. Afifuddin and B. A. Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Pustaka Setia, 2012.
[6] K. Benuf and M. Azhar, “Metodologi Penelitian Hukum sebagai Instrumen Mengurai Permasalahan Hukum Kontemporer,” Gema Keadilan, vol. 7, no. 1, pp. 20–33, 2020, doi: 10.14710/gk.2020.7504.
[7] W. Suardi, “Catatan Kecil Mengenai Desain Riset Deskriptif Kualitatif,” Ekubis J. Ekon. Keuangan, Bisnis, vol. 2, no. 2, pp. 1–11, 2020, [Online]. Available: https://ojs.uninus.ac.id/EKUBIS/article/view/781
[8] N. Y. Puspita, E. Nadeak, and A. D. Hervino, “Justifikasi Penerapan Prinsip Permanent Sovereignty Over Natural Resources dalam Perdagangan Internasional,” J. Komunitas Yust., vol. 5, no. 3, pp. 504–525, 2022, [Online]. Available: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jatayu/article/view/56398
[9] C. D. P. Sari and H. Ibrahim, “Peran Politik dalam Pembentukan Kebijakan Perdagangan Internasional: Studi Perbandingan Antara Negara Maju dan Negara Berkembang,” J. Minfo Polgan, vol. 12, no. 2, pp. 2464–2473, 2023, doi: 10.33395/jmp.v12i2.13291.
[10] D. Suhanda, U. N. Huda, and U. Rosidin, “Politik Legislasi: Studi Terhadap Kepentingan Politik dalam Penetapan Regulasi di Indonesia,” Qanuniya J. Ilmu Huk., vol. 1, no. 2, pp. 22–33, 2024, doi: 10.15575/qanuniya.v1i2.880.
[11] D. Listyarini, “Prismatika Nilai Ekonomi dan Nilai Kepentingan Sosial sebagai Dasar Kebijakan Pembangunan Hukum Nasional,” Asy-Syir ah J. Ilmu Syari ah dan Huk., vol. 42, no. 2, pp. 409–428, 2008, doi: 10.14421/ajish.v42i2.116.
[12] M. Rosyidin, “Intervensi Kemanusiaan dalam Studi Hubungan Internasional: Perdebatan Realis Versus Konstruktivis,” Glob. Strateg., vol. 10, no. 1, pp. 55–73, 2017, doi: 10.20473/jgs.10.1.2016.55-73.
[13] S. D. Palabbi, “Ideologi dan Kepentingan Nasional Tiongkok di Balik Inisiatif One Belt and One Road (OBOR),” Governance, vol. 3, no. 2, pp. 1–14, 2023, [Online]. Available: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/governance/article/view/52008
[14] N. Irfani, “Asas Lex Superior, Lex Specialis, dan Lex Pesterior: Pemaknaan, Problematika, dan Penggunaannya dalam Penalaran dan Argumentasi Hukum,” J. Legis. Indones., vol. 17, no. 3, pp. 305–325, 2020, doi: 10.54629/jli.v17i3.711.
[15] Z. Ridlwan, “Memelihara Asas Pacta Sunt Servanda Atas Perjanjian Internasional: Telaah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 33/PUU-IX/2011,” in Monograf: Dimensi Hukum Internasional, vol. 2, Lampung: Pusat Kajian Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2014, pp. 75–94.
[16] A. Wibowo, Disrupsi Tata Kelola Global Ekonomi Digital. Semarang: Penerbit Yayasan Prima Agus Teknik, 2025. [Online]. Available: https://penerbit.stekom.ac.id/index.php/yayasanpat/article/view/592
[17] J. P. Suri, “Substantive V Exception Provision dalam Gatt: Studi Kasus Indonesia di WTO,” Coll. Stud. J., vol. 6, no. 2, pp. 360–371, 2023, doi: 10.56301/csj.v6i2.1093.
[18] F. J. Priyono, “Prinsip Most Favoured Nations dan Pengecualiannya dalam World Trade Organization (WTO),” Masal. Huk., vol. 42, no. 4, pp. 593–600, 2013, doi: 10.14710/mmh.42.4.2013.593-600.
[19] W. Carlsnaes, “The Agency-Structure Problem in Foreign Policy Analysis,” Int. Stud. Q., vol. 36, no. 3, pp. 245–270, 1992.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Enni Eka Kusumawati, Muh Amiruddin (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


