Perdamaian Adat Atau Perlindungan Anak? Analisis Putusan Hakim di Pengadilan Negeri Manokwari
DOI:
https://doi.org/10.64147/dokhum.v2i1.21Keywords:
Keadilan Restoratif, Mediasi Penal, Perlindungan Anak, Pertimbangan HakimAbstract
Penerapan keadilan restoratif dalam perkara persetubuhan terhadap anak menimbulkan perdebatan karena harus menyeimbangkan perlindungan anak, kepastian hukum, dan nilai hukum adat. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme mediasi penal dan perdamaian adat serta faktor-faktor yuridis dan non-yuridis yang memengaruhi pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Manokwari Nomor 270/Pid.Sus/2024/PN.Mnk. Penelitian menggunakan metode hukum socio-legal dengan pendekatan normatif-empiris melalui pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual, yang didukung studi dokumen serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdamaian adat, kompensasi, pemaafan, dan perkawinan diakomodasi sebagai pertimbangan yang meringankan tanpa menghapus pertanggungjawaban pidana. Disimpulkan bahwa penerapan keadilan restoratif perlu dibatasi oleh prinsip kepentingan terbaik anak agar tetap menjamin perlindungan hukum, kepastian hukum, dan keadilan substantif.
References
[1] H. Zehr, The Little Book of Restorative Justice: Revised and Updated. New York: Simon and Schuster, 2015.
[2] N. Hidayah and N. D. Putri, “Critical Analysis of the Child’s Best Interest Principle in Lamongan’s 2025 Juvenile Criminal Verdicts,” J. Ilmu Kepol., vol. 20, no. 1, pp. 61–77, 2026.
[3] A. L. Sembiring, R. Runtung, and M. Maria, “Pengaruh Hukum Adat (Living Law) terhadap Keputusan Hakim dalam Perkara Perdata Waris: Studi Kasus dalam Putusan Pengadilan Negeri Nomor: 225/Pdt.G/2009/PN. MDN,” Rewang Rencang J. Huk. Lex Gen., vol. 7, no. 3, pp. 1–21, 2026, doi: 10.56370/jhlg.v7i3.2866.
[4] A. R. Sopalatu, R. A. A. Lailita, and A Sudja’i, “Peran Hukum Adat dalam Penyelesaian Sengketa Masyarakat Lokal,” Pattimura Law Study Rev., vol. 3, no. 1, pp. 151–158, 2025, doi: 10.47268/palasrev.v3i1.20122.
[5] S. Mawita, P. Satria, S. N. Hidayah, A. N. Situmorang, and D. I. Murofikoh, “Penerapan Restorative Justice Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana,” Causa J. Huk. Dan Kewarganegaraan, vol. 16, no. 2, pp. 1–13, 2025.
[6] N. C. Suci, D. R. Monica, and F. B. Tamza, “Kebijakan Pemidanaan terhadap Anak Pelaku Persetubuhan dalam Sistem Peradilan Pidana Anak,” Al-Zayn J. Ilmu Sos. Huk., vol. 4, no. 2, pp. 5408–5416, 2026, doi: 10.61104/alz.v4i2.5001.
[7] D. Aldama, L. Prihatini, and I. H. Insan, “Tinjauan Yuridis Kriminologis Tindak Pidana dengan Sengaja Membujuk Anak Untuk Melakukan Persetubuhan Yang Dilakukan Secara Berlanjut: Studi Kasus Putusan Perkara Nomor 194/Pid.Sus/2024/PN.Gns,” Al-Zayn J. Ilmu Sos. Huk., vol. 4, no. 1, pp. 6478–6493, 2026, doi: 10.61104/alz.v4i1.4174.
[8] M. A. Pernando, S. Rahmah, and KMS. N. S. Fikri, “Tinjauan Yuridis terhadap Pelaku Perkara Tindak Pidana Persetubuhan: Studi Putusan Nomor 324/Pid.Sus/2024/PN TBH,” Takuana J. Pendidik. Sains Dan Hum., vol. 5, no. 2, pp. 1434–1442, 2026, doi: 10.56113/takuana.v5i2.625.
[9] V. N. Larantukan, D. F. Ng. Fallo, and O. G. Manuain, “Tinjauan Yuridis Putusan Hakim Atas Perkara Pidana Persetubuhan Yang Dilakukan Oleh Anak: Studi Putusan Nomor 32/Pid.Sus-Anak/2022/Pn Lahat,” Konsensus J. Ilmu Pertahanan Huk. Dan Ilmu Komun., vol. 1, no. 4, pp. 68–81, 2024, doi: 10.62383/konsensus.v1i4.239.
[10] N. M. Sitompul, J. Simamora, and S. F. B. Situmorang, “Analisis Yuridis Terhadap Pertimbangan Hukum Hakim dalam Tindak Pidana Persetubuhan yang Dilakukan oleh Anak Dikaitkan dengan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA): Studi Putusan Nomor 23/Pid. Sus-Anak/2024/Pn Rap,” J. Ilmu Huk. Hum. Dan Polit., vol. 6, no. 3, pp. 1994–2010, 2026, doi: 10.38035/jihhp.v6i3.7952.
[11] M. B. A. Akbar, “Penjatuhan Sanksi Pidana Persetubuhan Anak Yang Dilakukan Secara Berlanjut: Studi Putusan Nomor 97/PID.SUS/2015/PT.PBR,” Lex Posit., vol. 3, no. 3, pp. 169–186, 2025.
[12] R. Maziyyah, S. A. D. Syndo, and M. Shohihah, “Questioning Justice in Law Enforcement for Children as Victims of Criminal Acts of Sexual Intercourse: Menyoal Keadilan dalam Penegakan Hukum Anak Sebagai Korban Tindak Pidana Persetubuhan,” Al-Jinayah J. Huk. Pidana Islam, vol. 10, no. 2, pp. 278–290, 2024, doi: 10.15642/aj.2024.10.2.278-290.
[13] N. T. Rosenberg, Mitigating Circumstances. Bloomington: iUniverse, 2005.
[14] L. J. Chua, D. M. Engel, and S. Liu, “Legal Pluralism,” in The Asian Law and Society Reader, 1st ed., Cambridge University Press, 2023. doi: 10.1017/9781108864824.
[15] K. S. Gallant, The Principle of Legality in International and Comparative Criminal Law. in Cambridge studies in International and Comparative Law, no. 65. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.
[16] R. Saleilles, The Individualization of Punishment. New Delhi: Cosmo Publications, 2015.
[17] J. Griffiths, “What is Legal Pluralism?,” J. Leg. Plur. Unoff. Law, vol. 18, no. 24, pp. 1–55, Jan. 1986, doi: 10.1080/07329113.1986.10756387.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Anthon Hendriku Rumbruren, Atang Suryana, Isak Semuel Kejne Mansawan, Hengki Saiba, Yoseph Paskah Permenas Twenty (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


